Selasa, 07 Januari 2014

Seminar Nasional Filsafat Islam dan Tasawuf                                    
PMIA UPM- ICAS JAKARTA
STFI SADRA JAKARTA
Kajian kitab        : Al Futuhat al Makiyyah karya Ibn Araby
Pemateri               : Ikhlas Budiman, M.SiA
Tanggal                  : jumat, 27 Desember 2013


Biografi Ibn ‘arabi
Nama lengkap     : Abu bakr muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah al hatimi
Lahir                        : Andalusia, senin 17 Ramadhan 560 Hijriyah atau 28  juli 1165 Masehi
Nama panggilan : Abu Bak atau Abu ‘abdillah
Gelar                       :             -Al Syaikh al akbar (guru besar)
                                                -Muhy al haq al-din (yang menghidupkan kebenaran dan agama)
                                                -Al kibit Al Ahmar(belerang merah)
                                                -Sulthan Al ‘arifin(sultan ahli makrifat)
Nama orangtua
Ayah                       :’ Ali bin Muhammad
Gelar                       : Ahli fiqih, hadis, zuhud dan tasawuf
Ibu                           ; Nur
Istri                          : Maryam binti muhammad bin ‘abdun
Gelar                       : Ahli mukasyafah
Anak                       : sa’duddin muhammad, ‘imaduddin abu abdillah muhammad, dan zaenab.
Karya- karya ibn Arabi mencapai 244 kitab .
                                  Jakarta, bertempat di Auditorium Al Mustafa STFI Sadra dan ICAS Ikhlas Budiman, M.si salah satu dosen ICAS dari Makassar- sulawesi selatan membuka pembicaraan dengan salam. Kemudian dia langsung menyampaikan bahwasanya Kitab Al Futuhat al – Makiyyah mulai ditulis pada tahun 599 H di makkah pada tahun ini juga al- saffar al awwal diselesaikan selain dua passal terakhir kitab naskah pertama selesai ditulis, kemudian Ibnu Arabi merapikannaya pada tahun- tahun terakhir masa hidupnya. Kemudia menulis naskah yang kedua dengan tangannya sendiri dan menyelesaikannya pada tahun 636 H. Dua tahun sebelum wafatnya. Dalam naskah yang kedua terdapat beberapa tambahan yang tidak terdapat pada naskah pertama. Naskah pertama tersebut selesai ditulis pada tahun 629 H.
Dalam pengakuannya, Dia bersumpah bahwa tidak ada satupun huruf yang beliau tulis melainkan dari pekdiktean Illahi. Susunan babnya pun itu bukan atas ikhtiarnya sendiri. Dalam mukaddimah kitab al futuhat al makkiyyah dijelaskan tentang perwujudan segala sesuatu dalam bentuk manifestasi nama- namanya.
·         Pasal Al- makrifat
Ilmu huruf
Berkaitan tentang tingkatan- tingkatan  ilmu huruf ibn arabi menjelaskan tentang makana firmannNya. “Janganlah kamu tergesa- gesa membacanya sebelum wahyunya ditetapkan padanya”. (Qs Attoha :114)
Seluruh isi alam itu hidup dan berakal budi
Ibn Arabi menjelaskan bahwa seluruh isi alam itu hidup dan berakal budi, orang- orang berpendapat bahwa benda mati itu tidak berakal. Mereka berkesimpulan seperti itu berdasarkan penglihatan mereka.
Sofistik
Ibn Arabi menjelaskan tetntang sofistik, ke dalam pikirkan sofistik disebabkan karena kekacauan indera- indera mereka.
·         Pasal Al muamalat
Makrifat kewajiban dan sunnah
Ibn Arabi menjelaskan tentang makna  putih. Warna putih itu disukai oleh Allah dan memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian putih di hari jumat(sya’rani 1998. P.73).
Meninggalkan kewaraan
Ibn arabi menjelaskan tentang wara jika seseorang melihat orang lain menentang kebenaran yang disyariatkan kemudian dia meninggalakannya sekejap lalu dia melihatnya pada kesempatan yang lain kemudian menghukuminya seperti keadaan sebelumnya maka tidak mememenuhi hak ketuhanan dan beradab bersama Allah
·         Pasal Al Ahwal
Penejelasan Ibn Arabi tentang adab syariat yang berkaitan dengan substansi dan aksiden.
Hendaknya seorang hamba tidak melanggar hukum pada tempatnnya baik itu sebagai substansi atau aksiden atau waktu atau tempat atau posisi atatu relasi atau kondisi (keadaan) atau kuantitas atau tindakan aktif atau pasifitas(tindakan yang dipengaruhi).
·         Pasal Al Manazil
Ibn Arabi menjelaskan tentang pertanyaan yang harus dijawab dan tidak tertawakan pada bab 191 yang berkaitan dengan pengetahuan awal zaman.
Suatu ketika seorang badui datang kepada nabi bertanya  kepadanya dia berada dihadapan para sahabat lalu bertanya, wahai rasulullah saya ingin bertanya padamu tentang pakaian penghuni surga apakah makhluk yang diciptakan atau yang ditenun? Orang yang hadir menertawakannya, rasul marah dan berkata apakah kalian menertawakan orang yang bodoh bertanya pada orang yang tahu? Kesinilah, ketahuilah bahwa baju itu dibuat dari buah surga.
·         Pasal Al munazalat
Ibn Arabi menjelaskan tentang siapa yang dihina berarti dia menang. Rasulullah Saw bertanya pada sawda dimanakah Allah swt? Sekiranya yang mengatakan itu bukan rasul maka dalil akli memberiakan kesaksian akan kebodohan yang bertanya.
·         Pasal Al Maqamat
Rahasia memudahkan yang sulit.
Ibn Arabi menjelaskan cara memudahkan yang sulit. Tidak ada menjadi penghalang antara kamu dan kebenaran kecuali ketergesa- gesaanmu dala mengucapkan
Pandangan ulama tentang kitab futuhat al makiyyah
Abdul wahab syahrani mengatakan sesungguhnya saya sudah menelaah kitab para ulama yang tidak dapat saya hitung namun saya tidak menemukan kitab yang mencakup ucapan ahli tarekat melebihi kitab Al futuhat al maikiyyah.


Seminar Nasional Filsafat Islam dan Tasawuf
PMIA UPM- ICAS JAKARTA
STFI SADRA JAKARTA
Kajian kitab        : Al Insan al Kamil karya Abdul karim Al jili
Pemateri               : Prof. Dr. Yunasril Ali, MA
Tanggal                  : jumat, 3 januari 2014
                                  Al insan al kamil ( manusia paripurna) lengkapnya al insan al kamil fii makrifat al awakhir wal awwa il manusia paripurna kajian tentang pengenalan terhadap yan g akhir dan yang awal. Karya ini terdiri atas dua bagian dan diterbitkan dalam satu judul terkandung 63 bab. Bagian pertama mengandung 41 bab dan bagian kedua ada 22 bab. Karya ini ditulis oleh Abdul karim al jili. Nama lengkapnya abdul karim Ibn Khalifah ibn ahmad ibn mahmud al jili. Ia mendapat gelar kehormatan syaikh dan kutub al diin( poros agama) suatu gelar tertinggi dalam hierarki sufi.
Motivasi penulisan
                  Saya ingin memulai penelurusan motivasi dari judul yang mengandung pengenalan terhadap al awaakhir yaitu makhluk- makhluk tuhan berupa benda- benda fisikal yang muncul pada tataran akhir dalam prosese tajalli tuhan. Dan tuhan sendiri disebut al awwail dalam bentuk jamaknya. Ditulis dalam bentuk jamak untuk melukiskan tentang tuhan dan juga martabat- martabat yang ada dalam proses tajalinya.

Sumber dan tokoh yang mempengaruhi
                  Muncul dan populernya al insan al kamil tidak terlepas dari suasana masyarakat dan lingkungan para guru dan bacaan penulisannya sendiri.al jili hidup dalam suasana ilmia yang sedang berkembang di yaman ketika berada dibawah kepemimpinan bani rasul.

Karakteristik
Membaca judul al insan al kamil pastilah yang terbayang dalam pikiran kita adalah pembahasan tentang manusia yang paripurna dan segala seluk- beluknyan.tetapi’ ketika membuka lembaran-lembaran karya al jili itu yang kita temukan bukannya apa yang kita bayangkan itu yang mendominasi pembicaraan justru adalah maslah ketuhanan.dari 63 bab itu hanya bab 60 saja yang pokus pada konsep manusia  paripurna.

Penyebarannya
                  Sebagaimana diketahui al jilli adalah sufi pengembara yang telah menghabiskan sebagian usianya dalam melakukan perjalanan ke wilayah- wilayah  bagian timur dan barat.saya yakin melalui pengembaraan itu pula tersebarnya kitab al-insan al kamil ke wilayah-wilayah yang dikunjunginya setelah buku itu di tulis.

Pengaruhnya
Al insan al kamil meninggalkan pengaruh yang signifikan dalam dunia sufisme.setelah kemunculan buku itu istilah “insan al-kamil”semakin akrab kalangan sufi sesudahnya,dan masyarakat terpelajar pada umumnya.

posisi
posisi kajian tentang manusia paripurna sudah sangat tua usianya melebihi usia tasawuf sendiri.sejak masa  pytagoras kajian tentang manusia paripurna mulai kedengaran .

Ajaran sentral
Pemahaman tentang ajaran sentral kitab al insan al kamil tidak serta merta dapat kita tangkapa tanpa memahami ajaran dasar tasawuf.pada dasarnya tasawwuf mengajar pendekatan diri (ruhani) kepada tuhan.”Allah itu maha suci,dia tidak dapat di dekati melainkan oeh yang suci pula.oleh karena itu sufi/calon sufi berupaya mendekatkan diri melalui penyucian hati.






0 komentar:

Posting Komentar